Putar Balik Aja Deh

Saya punya tujuan ke suatu tempat. Saya harus kesana. Bukan sekedar harus sih, ini lebih ke cita-cita pengen kesana. Jadi saya menganggap harus kesana. Tempatnya agak jauh, eh bukan agak juga, kali ini beneran jauh banget. Gak tau deh durasinya berapa lama. Saya sendiri engga bisa etimasi karna tempatnya emang jauh. Tapi Saya punya kendaraan buat kesana. Yaa lumayan lah biarpun kendaraan saya hanya motor scoopy standar tanpa editan, yang penting itu bisa bawa saya kesana sekalipun perlahan-lahan. Alhamdu?lilaaaah.. Engga terlalu banyak nyiapin apa-apa, Cuma bawa yang sekedarnya aja yang saya kira cukup buat diperjanalan. Persiapan selesai, cabuuuut..

Diperjalanan, saya harus menjaga konsentrasi agar saya tidak melakukan kesalahan apapun. Engga kebut tapi engga terlalu lelet juga, Yang sedang-sedang saja yang penting selamat..

Dan Ketika perjalanan ini mulai agak jauh, cobaan itu mulai keliatan dari kejauhan. Maceeeeettt!! Bukan Cuma Jakarta yang macet, jalan ini pun engga semudah yang saya kira. Macet panjang ditambah jalannya kecil yang di kanan kirinya ada pasar tradisional yang didalamnya terdapat sahabat sejati, si penjual dan si pembeli. Semrawuuuuuttt, Jalanannya becek, engga rata, banyak batu, panas pula. Sempurna lah sudah cobaan ini.

Ada pepatah yang bilang, Sebesar apapun hujan itu turun, dia pasti akan berenti. Begitupun macet yang saya alami. Setelah sekian lama bertarung sabar, akhirnya macet itu pun bisa saya lewati. Plooong. Angin segar mulai kerasa lagi, tapi saya tetap menjaga kecepatan saya yang engga lelet dan engga cepet itu. setelah bebas dari cobaan itu, saya bertemu dengan momen dimana saya merasa berada diposisi saya yang paling nyaman dibumi. Lebay yaa? Hahaha tapi yaa emang gitu yang saya rasain. Langit cerah Jalan kosong hanya saya sendiri, pepohonan disamping seakan menundukan badannya untuk menyambut tamu istimewanya yang sedang berjalan ditengah-tengah karpet merah. Beuuuuh. Udaranya segar,angin sepoi-sepoi, pemandangan yang membuat saya gak mau pergi dari sana. Tujuan saya semakin dekat… “ketempat itu”.

Setelah melalui tikungan yang agak curam, saya bertemu dengan jalanan halus yang sagat lurus. Dan dari kejauhan yang saya lihat,ada seorang “polisi” yang berdiri tepat ditengah-tengah jalan ini. Dan saya di stop.

Polisi ini tidak ramah seperti polisi-polisi yang saya lihat pada umumnya. Dia tidak mengucapkan selamat pagi, dia tidak hormat dahulu sebelum memulai pertanyaan, dan dia tidak senyum. Hmm Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu jadi berdampak ke saya, apees. Tapi saya bisa ngerti. Setelah saya distop, polisi ini mulai menatap saya dari ujung kaki sampai kepala seakan ada yg salah pada diri saya, lalu dia balik lagi menatap dari kepala sampai ke ujung kaki-_-, dia mulai menatap mata saya tajam. Dalam hati saya, “wah ditilang nih”. Hahahhaha saya Cuma bisa senyum ke dia J

“boleh saya lihat surat-suratnya?” Tanya polisi terebut

Saya mengeluarkan surat  dan bilang “oh tentu, ini stnk dan sim saya”

Saya merasa tidak punya salah karna stnk dan sim saya belum habis masa berlakunya. Motor saya pun lengkap dengan spion dua dengan lampu yang masih berfungsi. Tapi diluar dugaan, polisi tersebut malah berkata “ini apa-apaan suratnya lecek begini, engga rapih, foto sim nya juga engga rapih, suram, berantakan”

Saya bingung, tiap stnk pasti posisinya dalam keadaan terlipat karna disimpannya didalam dompet. baru kali ini saya nemu polisi yang mempermasalahkan kerapihan surat-surat kendaraan. Saya coba liat lagi apa mungkin nomer-nomer yang berada disurat itu sudah luntur dan tidak terlihat. Tapi setelah saya lihat semuanya masih sangat jelas. Tapi ko begini??? Berlanjutlah perbincangan saya dengan polisi itu.

Poisi : “kamu mau kemana?”

Saya : “mau kesana(sambil menunjuk kedepan)”

Polisi : “mau ngapain kamu kesana, surat-surat kamu aja engga jelas begini, lecek”

Saya : “loh tapi suratnya masih berlaku kan, tulisan didalemnya juga masih jelas semua?”

Polisi : “iya, tapi surat kamu lecek, engga bagus, engga rapi, suram!, kamu engga “pantes kesana”

Saya : “apa hubungannya?”

Polisi : “goblok! anda gak pantes kesana, anda saja menggunakan motor, dan motor anda saja culun begini, penampilan anda amburadul. Ga bisa kesana! Gak pantes, anda pulang saja?”

Saya diem…. berfikir sejenak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada setelah perbincangan itu. saya bisa saja engga peduliin polisi ini dengan ngelewatin gitu aja. Toh dia engga bisa ngejar karena sepenglihatan saya, engga ada kendaraan disekitar dia. Hmmm tapi kalo saya kabur, saya yakin ketika saya sampai ditempat yang saya tuju itu, dia pasti datang dan menghanjurkan semuanya. Tapi masalahnya engga masuk akal kl alasan saya engga boleh kesana hanya karena “surat-surat saya tidak rapih”. ??????!!!

Otak saya terus berfikir. Kalo udah begini, apa saya harus tetep maksain kesana? Apa di dunia ini engga ada tempat lain yang lebih baik selain yang saya mau tuju itu. sangat jelas dan udah pasti kalo “polisi” ini engga suka sama saya. Bayangkan kalo saya tetep nekat kesana tanpa mempedulikan dia, mungkin ketika saya sampai sana polisi tersebut akan membuat sejuta alasan agar saya bisa ditangkap dan dimasukan kepenjara dikemudian hari. Jadi, Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para makhluk tangguh yang disebut laki-laki, bukannya saya nyerah dan bukannya saya engga suka tantangan, tapi keputusan ini menyangkut orang-orang disekitar saya dikemudian hari. Jadi, saya puter balik aja deh…..  J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s